Beranda | Artikel
Hakikat Cinta
13 jam lalu

Hakikat Cinta merupakan kajian Islam yang disampaikan oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. dalam pembahasan Amalan-Amalan Hati. Kajian ini disampaikan pada Jumat, 13 Rajab 1447 H / 2 Januari 2026 M.

Kajian Tentang Hakikat Cinta

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah dalam kitab Madarijus Salikin mengungkapkan hakikat cinta dengan narasi yang sangat indah. Beliau memaparkan kedudukan mahabbah sebagai sebuah tingkatan yang membuat orang-orang beriman berlomba-lomba untuk meraihnya. Para pecinta Allah senantiasa bersungguh-sungguh dan memberikan segalanya demi mencapai derajat tersebut.

Kedudukan dan Fungsi Mahabbah

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan bahwa mahabbah memiliki peran vital bagi seorang mukmin:

  • Nutrisi Hati dan Gizi Roh: Mahabbah adalah kebutuhan pokok bagi jiwa.
  • Kesejukan Pandangan Mata (Qurratul ‘Uyun): Cinta kepada Allah mendatangkan ketenangan yang luar biasa.
  • Kehidupan yang Sesungguhnya: Kecintaan adalah kehidupan itu sendiri. Barang siapa yang tidak meraihnya, ia tergolong sebagai orang yang mati meskipun jasadnya bernapas.
  • Cahaya di Tengah Kegelapan: Mahabbah adalah cahaya bagi hamba. Tanpa cahaya ini, seseorang akan tenggelam dalam lautan kegelapan.
  • Obat bagi Hati: Kecintaan kepada Allah adalah resep penyembuh. Tanpa obat ini, hati akan diselimuti oleh berbagai penyakit.
  • Kelezatan dan Kenikmatan: Seseorang yang tidak merasakan kelezatan cinta kepada-Nya akan menjalani kehidupan yang penuh dengan kebimbangan, kegalauan, dan kesedihan.

Mahabbah sebagai Ruh Amal

Kecintaan adalah ruh dari keimanan, amalan, kedudukan, dan keadaan seorang hamba. Apabila seluruh dimensi kehidupan seorang mukmin kosong dari rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia bagaikan jasad yang tidak memiliki ruh.

Kecintaan inilah yang mendorong para musafir menuju Allah ‘Azza wa Jalla untuk terus berjalan. Meskipun jalan yang ditempuh terasa sulit dan penuh rintangan, dorongan cinta membuat segala kesulitan menjadi ringan. Cinta pulalah yang mengangkat derajat seorang hamba menuju tingkatan orang-orang yang jujur (ash-shiddiq) dalam keimanannya.

Tanpa rasa cinta kepada-Nya, mustahil seseorang dapat meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah bersumpah bahwa para pecinta Allah telah meraih seluruh kemuliaan di dunia dan akhirat karena mereka mendapatkan kebersamaan dengan Sang Kekasih (Allah).

Kebersamaan dengan yang Dicintai

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan takdir bagi setiap makhluk dengan hikmah-Nya yang mulia, bahwa seseorang akan dikumpulkan bersama siapa yang ia cintai. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari).

Prinsip ini memberikan harapan besar bagi orang beriman. Bila cinta kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla tulus, kita akan hidup dalam pengawasan dan kebersamaan dengan-Nya. Bila cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam murni, kita akan disatukan dengan beliau di akhirat kelak. Begitu pula jika kita mencintai generasi terbaik umat ini, seperti kaum Muhajirin dan Ansar, maka kita akan dikumpulkan bersama mereka di surga kelak.

Pembuktian Cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan bagaimana kecintaan yang tulus menyelimuti hati seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggil untuk meraih kemenangan dan keberuntungan, hamba tersebut akan segera memenuhi seruan itu karena rasa rindu untuk bertemu dengan Kekasihnya.

Tentu seorang hamba akan bersegera karena Sang Kekasih telah memanggil menuju kebaikan. Saat seruan adzan dikumandangkan dan muadzin menyerukan:

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

“Mari melaksanakan shalat, mari meraih kemenangan.”

Hati orang-orang yang bersemi cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla akan bergegas memenuhi panggilan tersebut. Ia mendapatkan ketenangan dalam menjalin hubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla melalui shalat dan ibadah. Hamba tersebut akan memberikan segalanya, termasuk mengorbankan hal yang paling dicintai, demi sampai kepada Sang Kekasih.

Pengorbanan sebagai Biaya Cinta

Harga untuk mendapatkan surga dan kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla adalah pengorbanan jiwa , raga, serta harta. Sebaliknya, orang-orang yang pengecut dan kikir tidak akan mampu meraih tingkatan cinta tersebut karena tidak memiliki kesiapan untuk berkorban.

Kecintaan sejati bukanlah sekadar ucapan di bibir, melainkan membutuhkan pembuktian nyata. Semua orang dapat menyatakan cinta, tetapi hanya segelintir yang mampu membuktikannya melalui perbuatan. Imam Ibnu Qayyim menegaskan bahwa setiap pernyataan cinta dituntut pembuktiannya. Tanpa bukti yang nyata, sebuah pengakuan hanyalah kebohongan atau kepalsuan.

Pernyataan cinta tidak dapat diterima kecuali dengan adanya bukti (bayyinah). Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 31).

Ayat ini merupakan bukti nyata bagi setiap pernyataan cinta. Cinta kepada Allah bukan sekadar ucapan, melainkan pengorbanan dan perbuatan dengan mengikuti jalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Keteguhan dalam Jalan Cinta

Setelah turunnya ayat tersebut, banyak orang yang mengaku cinta mulai mundur karena terbukti berdusta dalam pernyataannya. Hanya orang-orang yang istiqamah menelusuri jalan cinta—yaitu para pengikut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perkataan, perbuatan, akhlak, dan seluruh perkara agama—yang tetap kokoh.

Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah contoh nyata dalam membela dan mengikuti sunnah beliau. Mereka berjuang mengorbankan jiwa, raga, dan harta demi membela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bagi mereka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih dicintai daripada diri mereka sendiri.

Mengenai karakter para pecinta sejati ini, Allah ‘Azza wa Jalla menggambarkan keteguhan mereka:

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

“…yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 54).

Transaksi Keimanan: Membeli Surga dengan Jiwa dan Harta

Orang-orang yang cintanya telah bersemi di dalam hati akan terus berjuang membuktikan cintanya melalui pengorbanan jiwa dan raga. Hal ini terjadi karena sesungguhnya telah ada transaksi yang terjalin antara mereka dengan Allah ‘Azza wa Jalla, Sang Kekasih.

Realisasi cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala membutuhkan pengorbanan dengan nilai dan harga yang sangat mahal. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan hal ini di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Tawbah[9]: 111).

Ayat ini menggambarkan sebuah transaksi antara hamba dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Dalam transaksi tersebut, Allah ‘Azza wa Jalla adalah pihak yang membeli, sementara keuntungan atau bayaran yang diterima hamba adalah surga. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi saksi dalam transaksi ini karena beliaulah yang menyampaikan syariat kepada umat manusia.

Tatkala orang-orang yang hatinya bersemi dengan cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla mengetahui nilai transaksi dan harga yang ditawarkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla berupa surga, mereka menyadari bahwa tidak ada yang lebih mulia dan lebih mahal daripada itu. Setelah melihat hakikat ini dengan nyata, mereka bergegas melanjutkan transaksi tersebut tanpa keraguan sedikit pun.

Seseorang yang tidak menggunakan kesempatan ini akan tergolong ke dalam orang-orang yang merugi. Oleh karena itu, para hamba yang beriman bersungguh-sungguh melakukan baiat untuk menerima transaksi tersebut tanpa pilihan lain dan tanpa keraguan. Mereka berjanji demi Allah tidak akan meninggalkan atau membatalkan baiat serta transaksi ini. Inilah yang mendasari orang-orang yang berjuang di jalan Allah ‘Azza wa Jalla hingga mereka rela mengorbankan jiwa dan harta.

Download MP3 Kajian Hakikat Cinta


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55948-hakikat-cinta/